Catatanplus.com – Joko Widodo atau Jokowi pernah menyampaikan sejumlah filosofi Jawa yang menjadi bagian dari pandangan hidupnya. Salah satu yang menarik perhatian adalah ungkapan “Lamun sira banter, ojo ndhisiki”, yang secara sederhana dapat dimaknai sebagai “meskipun kamu cepat, jangan suka mendahului.” Filosofi tersebut bukan sekadar ajaran mengenai bagaimana seseorang bersikap dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga dapat dimaknai lebih luas sebagai pesan tentang pengendalian diri, menghormati orang lain, dan tidak menggunakan kemampuan sebagai alasan untuk selalu berada di depan.
Ungkapan itu disampaikan Jokowi ketika menjelaskan filosofi hidup yang ia pegang. Dalam kesempatan tersebut, ia menyebut tiga petuah Jawa, yakni “Lamun sira sekti, ojo mateni,” “Lamun sira banter, ojo ndhisiki,” dan “Lamun sira pinter, ojo minteri.” Maknanya masing-masing berkaitan dengan kekuatan, kecepatan, dan kepandaian. Ketiganya memiliki satu benang merah, yaitu bahwa kelebihan yang dimiliki seseorang harus disertai sikap rendah hati dan pengendalian diri.
Kemampuan Tidak Harus Selalu Ditunjukkan
“Lamun sira banter, ojo ndhisiki” menjadi menarik karena menyentuh persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan manusia. Seseorang yang memiliki kemampuan, pengalaman, pengetahuan, maupun kesempatan lebih besar memang dapat bergerak lebih cepat dibandingkan orang lain. Namun filosofi Jawa tersebut mengingatkan bahwa kemampuan untuk bergerak cepat tidak selalu berarti seseorang harus terus-menerus mengambil posisi terdepan.
Ada situasi tertentu ketika seseorang perlu memberikan ruang kepada orang lain. Kemampuan yang dimiliki tidak harus selalu dipamerkan melalui tindakan yang paling cepat, paling dominan, atau paling menonjol. Justru kemampuan mengendalikan diri dapat menjadi bentuk kedewasaan.
Dalam penjelasannya, Jokowi menyampaikan bahwa orang yang cepat tidak perlu selalu mendahului. Sikap tersebut berkaitan dengan perasaan orang lain dan bagaimana hubungan antarmanusia tetap dijaga. Ketika seseorang selalu ingin berada di depan tanpa mempertimbangkan orang lain, tindakannya bisa menimbulkan rasa tidak nyaman. Karena itu, kecepatan perlu disertai kepekaan sosial.
filosofi Jawa dan Sikap Rendah Hati
filosofi Jawa pada dasarnya banyak mengajarkan keseimbangan antara kemampuan pribadi dan tata krama dalam berhubungan dengan sesama. Dalam konteks pesan Jokowi, kemampuan tidak ditempatkan sebagai alat untuk merendahkan orang lain.
Hal itu terlihat dari tiga petuah yang disampaikannya. Seseorang yang kuat tidak boleh menggunakan kekuatannya untuk menjatuhkan. Seseorang yang cepat tidak harus selalu mendahului. Sementara orang yang pintar tidak seharusnya merasa paling pintar. Ketiganya menunjukkan bahwa kelebihan seseorang justru harus diimbangi dengan pengendalian diri.
Kantor Staf Presiden dalam ulasannya mengenai filosofi Jawa Jokowi juga menempatkan ungkapan tersebut dalam konteks kepemimpinan. Kekuasaan dan kemampuan, menurut sudut pandang yang dikembangkan dalam tulisan itu, perlu disertai moralitas serta kemampuan memahami dan mendengarkan orang lain.
Dengan demikian, “jangan mendahului” tidak harus dipahami sebagai larangan untuk maju. filosofi ini lebih tepat dibaca sebagai nasihat agar seseorang mengetahui kapan harus maju dan kapan harus memberikan kesempatan. Ada perbedaan antara menjadi orang yang mampu memimpin dengan menjadi orang yang ingin selalu menguasai keadaan.
Relevansinya dalam Dunia Politik
Ketika filosofi tersebut ditempatkan dalam kehidupan politik, maknanya menjadi semakin luas. Politik pada dasarnya bukan hanya persoalan siapa yang paling cepat mengambil keputusan atau siapa yang paling dahulu mendapatkan posisi. Politik juga berkaitan dengan bagaimana seseorang berkomunikasi, membangun hubungan, menjaga kepercayaan, serta menghadapi pihak yang memiliki pandangan berbeda.
Jokowi pernah menggunakan filosofi Jawa dalam menjelaskan bagaimana seseorang seharusnya bersikap setelah memenangkan persaingan politik. Dalam konteks itu, filosofi “jangan mendahului” dapat dibaca sebagai ajakan untuk tidak menjadikan kemenangan atau keunggulan sebagai alasan meremehkan pihak lain.
Hal tersebut juga pernah dikaitkan dengan sikap Jokowi setelah kontestasi politik yang mempertemukannya dengan Prabowo Subianto. Sejumlah analisis pada 2019 melihat penggunaan filosofi Jawa tersebut sebagai bagian dari cara Jokowi membangun pendekatan politik yang lebih merangkul dibandingkan mempertajam perbedaan.
Pesan semacam ini memiliki arti penting karena persaingan politik sering kali membuat setiap pihak berlomba menunjukkan keunggulannya. filosofi Jawa mengingatkan bahwa kemenangan bukan akhir dari hubungan antarmanusia. Setelah kompetisi selesai, masih ada kebutuhan untuk bekerja sama dan menjaga kehidupan bersama.
Tidak Mendahului Bukan Berarti Takut Bersaing
Salah satu hal penting yang perlu dipahami dari filosofi tersebut adalah bahwa “ojo ndhisiki” bukan berarti seseorang harus takut bersaing atau sengaja menghambat kemajuan dirinya. Justru seseorang tetap dituntut memiliki kemampuan dan bergerak maju.
Perbedaannya terletak pada cara menggunakan kemampuan tersebut.
Seseorang boleh menjadi cepat, tetapi tetap harus memperhatikan keadaan sekitar. Seseorang boleh memiliki prestasi lebih tinggi, tetapi tidak perlu menggunakan prestasi itu untuk membuat orang lain merasa rendah. Seseorang boleh memiliki pengaruh besar, tetapi tidak berarti semua keputusan harus ditentukan sendiri.
Pandangan seperti ini menjadi relevan dalam kehidupan sosial modern. Di tengah budaya persaingan yang mendorong orang untuk tampil lebih cepat dan lebih menonjol, kemampuan menahan diri justru menjadi sesuatu yang tidak mudah dilakukan.
Jokowi dan Cara Membawa filosofi Jawa
Sebagai tokoh yang lahir dan tumbuh dalam lingkungan budaya Jawa, Jokowi beberapa kali menggunakan istilah dan filosofi Jawa untuk menjelaskan pandangan hidupnya. Dalam wawancara yang membahas filosofi tersebut, ia menyampaikannya secara sederhana tanpa menjadikannya sebagai teori politik yang rumit.
Pendekatan sederhana itu justru membuat pesannya mudah dipahami. filosofi tersebut berbicara mengenai kehidupan manusia secara umum: bagaimana seseorang menggunakan kekuatan, kemampuan, dan kepandaian tanpa kehilangan rasa hormat kepada orang lain.
Menariknya, gagasan “mendahului” juga memiliki makna yang berbeda ketika ditempatkan dalam konteks pembangunan bangsa. Dalam pidato kenegaraan pada 16 Agustus 2019, Jokowi justru menyerukan agar Indonesia mampu melompat dan mendahului bangsa lain melalui ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan sumber daya manusia yang unggul.
Di sini terlihat bahwa kata “mendahului” harus ditempatkan sesuai konteks. Dalam persaingan antarnegara, Indonesia didorong untuk maju dan tidak tertinggal. Sementara dalam hubungan antarmanusia, seseorang diingatkan agar tidak menjadikan kecepatannya sebagai alasan untuk terus mengambil posisi di depan orang lain.
Pesan tentang Pengendalian Diri
Pada akhirnya, filosofi “Lamun sira banter, ojo ndhisiki” dapat dipahami sebagai pesan mengenai pengendalian diri. Memiliki kemampuan adalah sebuah kelebihan, tetapi kemampuan mengendalikan kelebihan tersebut merupakan bentuk kedewasaan.
Seseorang yang benar-benar mampu tidak selalu harus menunjukkan bahwa dirinya mampu. Ia mengetahui kapan harus berbicara, kapan harus bertindak, kapan harus memimpin, dan kapan harus memberikan kesempatan kepada orang lain.
filosofi ini juga mengajarkan bahwa kehidupan bukan hanya tentang siapa yang paling cepat sampai di depan. Ada kalanya perjalanan menjadi lebih baik ketika seseorang berjalan bersama, bukan meninggalkan semua orang di belakang.
Pesan tersebut tetap relevan dalam kehidupan masyarakat, dunia kerja, organisasi, maupun politik. Persaingan memang diperlukan untuk mendorong kemajuan, tetapi persaingan tanpa pengendalian diri dapat melahirkan konflik. Karena itu, kemampuan dan kecepatan perlu berjalan bersama dengan rasa hormat.
Dalam pandangan yang disampaikan Jokowi, filosofi Jawa bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga dapat menjadi pedoman untuk menjaga sikap. Cepat bukan berarti harus selalu mendahului. Pintar bukan berarti harus selalu merasa paling benar. Kuat bukan berarti berhak menjatuhkan.
Pada akhirnya, nilai yang hendak disampaikan adalah bahwa kelebihan seseorang akan menjadi lebih berarti ketika digunakan dengan bijaksana. Menjadi yang terdepan memang penting dalam banyak keadaan, tetapi mengetahui kapan harus memberi ruang kepada orang lain juga merupakan sebuah kemampuan.
Sumber resmi: Sekretariat Negara RI – Presiden Jokowi: Butuh Terobosan Agar Indonesia Bisa Mendahului Bangsa Lain




