Catatanplus.com – Dunia pemasaran digital terus berubah mengikuti kebiasaan masyarakat dalam mencari informasi dan membeli produk. Pada 2026, salah satu perubahan paling terlihat adalah semakin kuatnya peran media sosial sebagai tempat menemukan produk, membangun kepercayaan, berinteraksi dengan penjual, hingga melakukan transaksi. Strategi pemasaran yang sebelumnya berpusat pada iklan konvensional kini semakin bergeser ke konten video, kreator, live shopping, komunitas, serta pemanfaatan kecerdasan buatan.
Tren tersebut bukan sekadar muncul karena sebuah platform sedang populer. Perubahan perilaku konsumen menjadi salah satu faktor utama yang mendorong strategi pemasaran baru. Laporan tren media sosial 2026 dari HubSpot, misalnya, mencatat bahwa media sosial semakin berfungsi sebagai tempat penemuan produk, pencarian informasi, transaksi, dan layanan pelanggan. Video pendek juga menjadi salah satu format yang paling banyak digunakan dan mendapat investasi oleh pemasar.
Salah satu strategi yang sedang banyak digunakan adalah pemasaran melalui video pendek. TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts membuat perusahaan tidak harus selalu membuat iklan dengan produksi besar. Produk dapat diperkenalkan melalui video berdurasi singkat dengan gaya yang lebih natural.
Konten seperti demonstrasi penggunaan produk, perbandingan sebelum dan sesudah, ulasan pelanggan, tutorial singkat, hingga cerita di balik sebuah produk menjadi cara yang efektif untuk menarik perhatian. Pendekatan tersebut membuat iklan terasa seperti konten biasa sehingga lebih mudah diterima oleh pengguna.
Perubahan ini juga didukung oleh penelitian terbaru yang mengamati pengguna TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts di Indonesia. Penelitian yang diterbitkan pada Agustus 2026 menemukan adanya hubungan antara kreativitas video pendek, kredibilitas influencer, relevansi budaya, serta persepsi keaslian konten dengan niat pembelian impulsif.
Strategi berikutnya adalah creator marketing atau pemasaran melalui kreator. Saat ini perusahaan tidak hanya mencari influencer dengan jumlah pengikut besar. Banyak brand mulai memperhatikan kreator dengan komunitas yang lebih kecil tetapi memiliki hubungan kuat dengan audiensnya.
Micro-influencer dengan sekitar 10 ribu hingga 100 ribu pengikut menjadi salah satu kelompok yang banyak diperhatikan karena dapat memberikan keterlibatan yang lebih tinggi dengan biaya yang relatif lebih rendah. Strategi ini juga membuat promosi terlihat lebih personal karena produk diperkenalkan oleh orang yang memang sudah dipercaya oleh komunitasnya.
Yang berubah bukan hanya jumlah pengikut, tetapi juga cara perusahaan bekerja sama dengan kreator. Kerja sama pemasaran semakin diarahkan pada hasil yang bisa diukur, seperti penjualan, konversi, klik, dan kontribusi terhadap perjalanan pelanggan, bukan hanya jumlah tayangan atau likes.
Kemudian muncul strategi user generated content atau UGC. Dalam pola ini, perusahaan memanfaatkan pengalaman pelanggan dalam bentuk foto, video, testimoni, atau ulasan. Konten tersebut kemudian digunakan sebagai bagian dari komunikasi pemasaran.
UGC dianggap penting karena konsumen cenderung membutuhkan bukti sebelum membeli. Mereka ingin mengetahui bagaimana suatu produk digunakan oleh orang lain, apakah hasilnya sesuai dengan klaim, dan bagaimana pengalaman pengguna sebelumnya.
Strategi ini juga semakin berkaitan dengan social commerce. Shopify mencatat bahwa konten kreator, UGC, ulasan, dan bukti sosial semakin bekerja secara bersama-sama dalam proses pembelian. Konsumen yang melihat konten kreator dapat melanjutkan pencarian dengan membaca komentar, mencari ulasan lain, atau membandingkan pendapat kreator berbeda sebelum membeli.
Live shopping juga menjadi salah satu strategi pemasaran yang ramai digunakan. Konsepnya sederhana: penjual atau kreator melakukan siaran langsung sambil memperlihatkan produk, menjawab pertanyaan penonton, memberikan penawaran, dan mengarahkan audiens menuju pembelian.
TikTok Shop sendiri menyediakan fitur belanja LIVE yang memungkinkan kreator berinteraksi langsung dengan audiens sekaligus mempromosikan produk. Model ini menggabungkan hiburan, komunikasi, dan transaksi dalam satu aktivitas.
Live shopping memiliki keunggulan karena calon pembeli dapat bertanya secara langsung. Keraguan mengenai ukuran, fungsi, bahan, cara penggunaan, maupun perbedaan dengan produk lain bisa dijawab saat itu juga. Interaksi tersebut dapat membantu membangun kepercayaan yang sulit diperoleh hanya melalui foto katalog.
Selain live shopping, social commerce secara umum menjadi bagian penting dari strategi pemasaran 2026. Media sosial tidak lagi hanya digunakan untuk memperkenalkan brand. Platform digital semakin menggabungkan tahap penemuan produk, interaksi, hingga pembelian.
Indonesia Marketing Association dalam proyeksi tren 2026 juga menempatkan social commerce sebagai salah satu perkembangan utama, bersama dengan personalisasi berbasis AI, integrasi omnichannel, dan video pendek.
Strategi lainnya yang sedang berkembang adalah personalisasi menggunakan kecerdasan buatan atau AI. Perusahaan dapat menggunakan AI untuk membantu membuat variasi konten, membaca perilaku pelanggan, menyusun rekomendasi produk, dan menyesuaikan pesan pemasaran berdasarkan karakteristik audiens.
Namun penggunaan AI tidak berarti semua konten harus dibuat otomatis. Justru semakin mudahnya produksi konten menggunakan AI membuat unsur manusia menjadi semakin penting. Konsumen tetap membutuhkan konten yang terasa nyata, relevan, dan dapat dipercaya.
Gartner memperkirakan AI akan semakin digunakan untuk menciptakan interaksi pemasaran yang lebih personal. Pada saat yang sama, Gartner juga menyoroti pentingnya keaslian konten dan kepercayaan konsumen dalam menghadapi perubahan teknologi pemasaran.
Salah satu perubahan lain yang mulai terlihat adalah pemasaran melalui percakapan. Konsumen tidak selalu ingin mengisi formulir atau membuka banyak halaman untuk mendapatkan informasi. Mereka semakin terbiasa bertanya secara langsung melalui pesan.
Karena itu, WhatsApp, fitur pesan media sosial, chatbot, dan berbagai sistem percakapan mulai digunakan untuk melanjutkan proses dari promosi menuju transaksi. Polanya menjadi lebih sederhana: konsumen melihat konten, tertarik, bertanya, mendapatkan jawaban, lalu melakukan pembelian.
Strategi ini sangat relevan bagi usaha kecil. Penjual tidak selalu membutuhkan sistem pemasaran yang rumit. Konten video dapat digunakan untuk menarik perhatian, kemudian WhatsApp digunakan untuk menjawab pertanyaan dan menyelesaikan transaksi.
Ada pula strategi yang semakin penting, yaitu membangun komunitas. Brand mulai menyadari bahwa memiliki banyak pengikut tidak selalu berarti memiliki pelanggan yang loyal. Komunitas yang aktif justru dapat menjadi aset jangka panjang.
Komunitas dapat dibangun melalui grup, forum pelanggan, komentar, acara digital, maupun aktivitas offline. Tujuannya bukan hanya menjual produk, tetapi menciptakan hubungan antara brand dan konsumen.
Perubahan lain yang menarik adalah pergeseran dari sekadar mengejar viralitas menuju konten yang memberikan nilai. Konten yang viral memang dapat menghasilkan jangkauan besar, tetapi belum tentu menghasilkan penjualan. Strategi yang semakin banyak digunakan adalah membuat konten yang mampu menghibur sekaligus menjawab kebutuhan audiens.
Misalnya, sebuah toko pakaian tidak hanya mengunggah foto produknya. Mereka dapat membuat video tentang cara memilih ukuran, memadukan warna pakaian, atau kesalahan yang sering dilakukan saat memilih pakaian. Produk kemudian muncul sebagai bagian dari solusi, bukan sekadar objek iklan.
Pada akhirnya, strategi pemasaran yang sedang viral pada 2026 tidak hanya soal mengikuti platform atau tren terbaru. Inti perubahannya terletak pada cara brand berkomunikasi dengan konsumen.
Video pendek menjadi pintu masuk perhatian. Kreator membantu membangun kepercayaan. UGC memberikan bukti sosial. Live shopping menciptakan interaksi langsung. AI membantu personalisasi dan efisiensi. Sementara itu, social commerce dan percakapan digital mempersingkat jarak antara perhatian dan transaksi.
Bagi pelaku usaha, strategi terbaik bukan berarti menggunakan semua tren sekaligus. Yang lebih penting adalah memilih strategi yang sesuai dengan jenis produk, karakter konsumen, kemampuan produksi konten, dan tujuan bisnis.
Di tengah persaingan digital yang semakin padat, brand yang hanya mengandalkan promosi berulang dapat dengan mudah kehilangan perhatian. Sebaliknya, brand yang mampu membuat konten relevan, membangun kepercayaan, memanfaatkan kreativitas manusia, dan menggunakan teknologi secara tepat memiliki peluang lebih besar untuk bertahan.
Dengan demikian, pemasaran modern pada 2026 semakin bergerak menuju pendekatan yang lebih cepat, interaktif, personal, dan berbasis komunitas. Viralitas tetap memiliki nilai, tetapi keberhasilan pemasaran pada akhirnya ditentukan oleh kemampuan sebuah brand mengubah perhatian menjadi kepercayaan, kemudian mengubah kepercayaan menjadi hubungan dan transaksi.
Sumber resmi terkait: TikTok Shop Creator & LIVE: TikTok Shop Creator – Belanja LIVE




