catatanplus.com – Kebakaran hutan Gunung Bromo kembali menjadi perhatian setelah api melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur. Kebakaran yang mulai terjadi pada awal Agustus 2026 tersebut terus mendapat penanganan dari tim gabungan karena sejumlah titik api berada di kawasan dengan medan yang sulit dijangkau.
Peristiwa kebakaran hutan Gunung Bromo dilaporkan mulai terjadi pada Senin, 3 Agustus 2026. Api kemudian menyebar di sejumlah wilayah yang masuk dalam kawasan TNBTS dan wilayah administratif di sekitar Gunung Bromo.
Perkembangan terbaru menunjukkan area terdampak terus bertambah. Kondisi angin dan medan terjal menjadi salah satu kendala utama dalam proses pemadaman.
Kebakaran Hutan Gunung Bromo Terus Meluas
Pada tahap awal, BNPB melaporkan sekitar 60 hektare lahan terdampak kebakaran hutan Gunung Bromo. Area tersebut tersebar di wilayah Kabupaten Probolinggo dan Kabupaten Malang.
BNPB mencatat sekitar 10 hektare lahan terbakar di kawasan Watu Gede, Desa Sariwani, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Sementara sekitar 50 hektare lainnya berada di kawasan Jantur, wilayah TNBTS di Kabupaten Malang. Vegetasi yang terdampak antara lain padang savana, cemara gunung, akasia, dan kaliandra.
Namun, kondisi di lapangan kemudian berkembang. Laporan terbaru menyebut luas kawasan yang terdampak kebakaran hutan Gunung Bromo telah meningkat hingga ratusan hektare.
Perluasan tersebut terjadi karena masih terdapat titik api di sejumlah lokasi serta kondisi medan yang membuat petugas tidak mudah mencapai sumber api.
Petugas Kerahkan Helikopter Water Bombing
Penanganan kebakaran hutan Gunung Bromo dilakukan melalui jalur darat dan udara. Tim gabungan menggunakan peralatan pemadam seperti gepyok, sprayer, mobil pemadam kebakaran, hingga drone untuk memantau titik api.
Karena beberapa lokasi kebakaran berada di lereng dengan kontur terjal, pemadaman dari darat menghadapi kendala. BNPB kemudian memberikan dukungan melalui operasi pemadaman udara menggunakan helikopter water bombing.
Penggunaan helikopter menjadi penting karena sebagian titik api sulit dijangkau petugas secara langsung. Air dijatuhkan dari udara ke area yang masih terbakar untuk membantu mengurangi kobaran api dan mencegah api semakin meluas.
Selain helikopter, drone juga digunakan untuk memantau kondisi kawasan. Pemantauan dari udara membantu petugas mengetahui lokasi titik api yang masih aktif sehingga proses pemadaman dapat diarahkan secara lebih efektif.
Akses Wisata Gunung Bromo Ditutup Sementara
Dampak kebakaran hutan Gunung Bromo juga berpengaruh terhadap aktivitas wisata. Balai Besar TNBTS melakukan penutupan sebagian akses menuju kawasan wisata Gunung Bromo demi keselamatan pengunjung dan masyarakat.
Penutupan dilakukan sejak Senin, 3 Agustus 2026 pukul 22.00 WIB dan diberlakukan hingga batas waktu yang belum ditentukan. Akses dari arah Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang termasuk jalur melalui Pos Jemplang, Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, turut terdampak penutupan.
Wisatawan diminta tidak memaksakan diri masuk ke kawasan yang sedang ditutup. Kondisi kebakaran dapat berubah sewaktu-waktu, terutama ketika angin bertiup kencang dan api masih berada di sekitar kawasan konservasi.
Informasi resmi mengenai kondisi kebakaran dan penanganan bencana dapat dipantau melalui BNPB.
TNBTS Dugaan Kebakaran Dipicu Aktivitas Manusia
Selain luas area yang terbakar, penyebab kebakaran hutan Gunung Bromo juga menjadi perhatian.
Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menduga kebakaran kali ini bukan disebabkan oleh faktor alam. Dugaan sementara mengarah pada aktivitas manusia, meskipun penyelidikan masih diperlukan untuk memastikan bagaimana api pertama kali muncul dan kemudian menyebar.
Dugaan tersebut menjadi perhatian karena kawasan Gunung Bromo merupakan kawasan konservasi yang memiliki ekosistem dan vegetasi yang rentan terhadap kebakaran, terutama ketika kondisi lingkungan sedang kering.
Aktivitas yang melibatkan api di kawasan terbuka dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran apabila tidak dilakukan dengan pengawasan dan prosedur yang tepat.
Kondisi Medan Menjadi Kendala Pemadaman
Salah satu masalah terbesar dalam penanganan kebakaran hutan Gunung Bromo adalah kondisi geografis kawasan.
Sebagian titik api berada di kawasan lereng dan medan terjal. Kondisi tersebut membuat kendaraan pemadam dan personel tidak dapat menjangkau seluruh lokasi secara langsung.
Angin kencang juga berpotensi mempercepat penyebaran api. Karena itu, meskipun sejumlah titik berhasil dipadamkan, petugas tetap harus melakukan pemantauan untuk memastikan tidak muncul kembali titik api baru.
BNPB sebelumnya menyebut terdapat titik api yang belum dapat dipadamkan karena berada di medan ekstrem dengan kontur terjal. Tim gabungan kemudian terus melakukan pemantauan dan penanganan di kawasan terdampak.
Tidak Ada Laporan Korban Jiwa
Di tengah meluasnya kebakaran hutan Gunung Bromo, sejauh laporan BNPB yang tersedia tidak terdapat laporan korban jiwa akibat kejadian tersebut.
Meski demikian, keselamatan tetap menjadi prioritas. Penutupan sebagian kawasan wisata dilakukan sebagai langkah pencegahan agar wisatawan tidak berada terlalu dekat dengan lokasi kebakaran.
Petugas gabungan dari BPBD, TNBTS, Polisi Kehutanan, TNI, Polri, relawan, serta unsur pemerintah daerah masih terlibat dalam proses penanganan.
Kebakaran Bromo Jadi Peringatan Saat Musim Kering
Peristiwa kebakaran hutan Gunung Bromo menunjukkan tingginya risiko kebakaran kawasan pegunungan saat musim kering.
Kondisi vegetasi yang kering dapat membuat api lebih cepat menjalar. Faktor angin kemudian dapat memperbesar area yang terdampak dalam waktu relatif singkat.
Karena itu, pencegahan menjadi bagian penting selain proses pemadaman. Pengunjung dan masyarakat yang berada di sekitar kawasan konservasi perlu menghindari aktivitas yang berpotensi memunculkan sumber api.
Pengawasan terhadap kawasan wisata juga menjadi penting untuk mencegah terjadinya kejadian serupa.
Penanganan Kebakaran Masih Berlangsung
Hingga perkembangan terbaru, kebakaran hutan Gunung Bromo masih menjadi fokus penanganan tim gabungan. Sejumlah metode pemadaman digunakan untuk mengendalikan titik api, mulai dari pemadaman darat hingga water bombing menggunakan helikopter.
Perkembangan luas area terbakar juga masih dapat berubah berdasarkan hasil pemantauan di lapangan. Karena itu, informasi terbaru dari BNPB, TNBTS, BPBD Jawa Timur, dan pemerintah daerah menjadi rujukan penting untuk mengetahui kondisi terkini.
Kawasan Gunung Bromo sendiri merupakan salah satu kawasan konservasi dan destinasi wisata alam penting di Jawa Timur. Kebakaran yang terjadi tidak hanya menyangkut persoalan keselamatan, tetapi juga berpotensi berdampak terhadap ekosistem apabila area yang terbakar terus meluas.
Penanganan cepat diperlukan agar kebakaran hutan Gunung Bromo dapat segera dikendalikan dan tidak menjalar ke kawasan lain.




