catatanplus.com – Kekeringan di Indonesia akibat El Nino menjadi salah satu ancaman yang perlu diwaspadai sepanjang musim kemarau 2026. Fenomena El Nino yang aktif tahun ini berpotensi membuat kondisi kemarau di sejumlah wilayah Indonesia menjadi lebih kering dan berlangsung lebih panjang dari kondisi normal.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut El Nino 2026 telah aktif dan berpotensi mencapai level sangat kuat. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kekeringan, berkurangnya ketersediaan air, kebakaran hutan dan lahan, serta gangguan terhadap sektor pertanian.
Situasi tersebut menjadi semakin penting karena Agustus merupakan salah satu periode puncak musim kemarau di Indonesia. BMKG sebelumnya memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia mengalami puncak kemarau pada periode Juli hingga September 2026.
Kekeringan di Indonesia akibat El Nino Makin Perlu Diwaspadai
Fenomena kekeringan di Indonesia akibat El Nino terjadi karena perubahan pola sirkulasi atmosfer dan distribusi curah hujan ketika El Nino berkembang. Kondisi tersebut dapat membuat sebagian wilayah Indonesia mengalami periode tanpa hujan yang lebih panjang.
El Nino sendiri merupakan fenomena iklim yang berkaitan dengan peningkatan suhu permukaan laut di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik tropis. Perubahan tersebut dapat memengaruhi pola atmosfer global, termasuk pola hujan di Indonesia.
Ketika pengaruh El Nino bertepatan dengan musim kemarau, risiko kekeringan dapat menjadi lebih besar. Tanah lebih cepat kehilangan kelembapan, sumber air berkurang, dan kebutuhan air masyarakat meningkat.
Pada 2026, kombinasi tersebut menjadi perhatian pemerintah karena BMKG memperkirakan kemarau berlangsung relatif kering di banyak wilayah.
Berdasarkan prediksi musim kemarau BMKG, sebanyak 451 Zona Musim atau sekitar 64,5 persen wilayah Zona Musim diperkirakan mengalami curah hujan kategori bawah normal selama musim kemarau 2026. Sebanyak 429 Zona Musim atau sekitar 61,4 persen juga diprediksi mengalami puncak kemarau pada Agustus.
Mengapa El Nino Bisa Menyebabkan Kekeringan?
Dampak El Nino terhadap Indonesia tidak berarti seluruh wilayah otomatis mengalami kekeringan pada waktu yang sama. Kondisi geografis Indonesia yang sangat luas membuat dampaknya berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya.
Namun, secara umum, El Nino dapat mengurangi peluang terbentuknya hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
Ketika curah hujan berkurang dalam waktu cukup lama, cadangan air di tanah dan sumber air permukaan perlahan menurun. Jika kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan suhu yang lebih panas, proses penguapan juga dapat meningkat.
Inilah yang kemudian memperbesar risiko kekeringan di Indonesia akibat El Nino.
Dampaknya dapat terlihat dari beberapa indikator, seperti:
- berkurangnya debit sungai;
- menyusutnya sumber mata air;
- menurunnya ketersediaan air untuk irigasi;
- meningkatnya kebutuhan air bersih;
- tanah menjadi lebih kering;
- meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan;
- terganggunya kegiatan pertanian.
Wilayah Indonesia yang Berisiko Mengalami Dampak Kekeringan
Dampak El Nino tidak tersebar secara seragam di seluruh Indonesia. Beberapa wilayah yang secara klimatologis lebih rentan mengalami kondisi kering perlu mendapatkan perhatian lebih besar.
BMKG sebelumnya memperkirakan puncak musim kemarau 2026 terjadi di berbagai wilayah Indonesia secara bertahap. Pada Agustus, puncak kemarau diprediksi terjadi di 369 Zona Musim atau sekitar 48,84 persen luas daratan Indonesia.
Wilayah yang memasuki periode kemarau lebih kering perlu mengantisipasi berkurangnya ketersediaan air, terutama daerah yang bergantung pada sumber air permukaan dan curah hujan.
Risiko juga perlu diperhatikan di wilayah pertanian yang masih mengandalkan sistem irigasi dengan pasokan air terbatas.
Dampak Kekeringan terhadap Pertanian
Sektor pertanian menjadi salah satu sektor yang paling rentan terhadap kekeringan di Indonesia akibat El Nino.
Tanaman membutuhkan air dalam jumlah tertentu untuk tumbuh secara optimal. Ketika curah hujan turun dalam waktu panjang dan pasokan irigasi ikut berkurang, produktivitas pertanian dapat terganggu.
Petani juga harus menyesuaikan jadwal tanam dengan kondisi ketersediaan air. Penanaman pada periode yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko tanaman mengalami kekurangan air.
Dampaknya bukan hanya dirasakan petani. Jika produksi beberapa komoditas pangan mengalami penurunan, pasokan di pasar juga dapat ikut terpengaruh.
Karena itu, pemerintah perlu melakukan pemantauan terhadap daerah yang mengalami kekeringan sekaligus memastikan distribusi air untuk wilayah pertanian yang membutuhkan.
Kekeringan Juga Meningkatkan Risiko Karhutla
Selain pertanian, kekeringan di Indonesia akibat El Nino juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan atau karhutla.
Vegetasi dan lahan yang mengalami kekeringan menjadi lebih mudah terbakar. Kondisi semakin berbahaya ketika terdapat sumber api, baik akibat aktivitas manusia maupun faktor lainnya.
BMKG memperkirakan risiko karhutla meningkat sejak Juli dan dapat mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026. Sejumlah wilayah di Sumatra dan Kalimantan menjadi perhatian karena memiliki tingkat risiko yang lebih tinggi.
Lima provinsi yang disebut sebagai prioritas untuk peningkatan pemantauan dan pengawasan adalah Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Jambi.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak El Nino tidak hanya berkaitan dengan masalah air. Kekeringan dapat berkembang menjadi persoalan lingkungan dan kesehatan apabila memicu kebakaran dalam skala luas.
Ancaman Krisis Air Bersih
Ketersediaan air menjadi persoalan lain yang perlu diperhatikan selama periode kekeringan.
Masyarakat di wilayah yang mengandalkan sumur, mata air, sungai, maupun sumber air lainnya dapat menghadapi penurunan ketersediaan air apabila hujan tidak turun dalam waktu panjang.
BMKG sendiri menempatkan ketersediaan air sebagai salah satu fokus utama dalam menghadapi dampak El Nino 2026. Pemerintah mendorong berbagai langkah untuk menjaga cadangan air, termasuk pengisian waduk melalui operasi modifikasi cuaca dan langkah mitigasi lainnya.
Upaya tersebut penting karena kebutuhan air tidak berhenti ketika musim kemarau berlangsung. Air tetap dibutuhkan untuk kebutuhan rumah tangga, pertanian, industri, peternakan, hingga berbagai aktivitas ekonomi.
Pemerintah Siapkan Mitigasi Menghadapi El Nino
Menghadapi kekeringan di Indonesia akibat El Nino, pemerintah tidak hanya mengandalkan penanganan ketika kekeringan sudah terjadi.
Langkah antisipasi dilakukan dengan memantau perkembangan cuaca dan iklim, menjaga ketersediaan air, serta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi karhutla.
BMKG juga menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor karena dampak El Nino dapat merambat ke berbagai bidang, mulai dari pertanian dan pangan hingga kesehatan, kualitas udara, serta perekonomian daerah.
Informasi resmi mengenai perkembangan iklim dan musim kemarau dapat dipantau melalui BMKG agar masyarakat tidak hanya mengandalkan informasi yang beredar di media sosial.
Apakah Kekeringan akan Berlangsung Lama?
Durasi kekeringan sangat bergantung pada perkembangan El Nino, pola musim, dan kondisi atmosfer dari waktu ke waktu. Karena itu, tidak tepat jika seluruh wilayah Indonesia dianggap akan mengalami kekeringan dengan tingkat keparahan yang sama.
Yang perlu diperhatikan adalah periode Agustus hingga September 2026 bertepatan dengan puncak kemarau di banyak wilayah. Kondisi tersebut membuat dampak El Nino berpotensi terasa lebih kuat dibandingkan ketika fenomena tersebut tidak bertepatan dengan puncak musim kemarau.
BMKG sebelumnya memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia mengalami puncak kemarau pada Agustus 2026.
Karena itu, pemantauan perkembangan curah hujan dan kondisi sumber air menjadi sangat penting dalam beberapa bulan ke depan.
Apa yang Bisa Dilakukan Masyarakat?
Masyarakat dapat ikut mengurangi dampak kekeringan dengan menggunakan air secara lebih efisien.
Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain mengurangi pemborosan air, menyimpan air ketika tersedia, memastikan saluran air tidak mengalami kebocoran, serta mengikuti informasi resmi mengenai kondisi cuaca dan potensi kekeringan di wilayah masing-masing.
Di daerah yang memiliki risiko kebakaran tinggi, masyarakat juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas yang dapat memicu kebakaran lahan.
Langkah kecil tersebut penting karena kekeringan bukan hanya persoalan berkurangnya hujan. Ketika cadangan air menurun secara terus-menerus, tekanan terhadap masyarakat, pertanian, lingkungan, dan ekonomi juga ikut meningkat.
Kekeringan di Indonesia akibat El Nino Perlu Diantisipasi
Kekeringan di Indonesia akibat El Nino menjadi ancaman yang perlu diperhatikan selama musim kemarau 2026. Kondisi El Nino yang aktif, ditambah puncak musim kemarau pada Juli hingga September, membuat sejumlah wilayah menghadapi risiko penurunan curah hujan, berkurangnya ketersediaan air, gangguan pertanian, serta meningkatnya potensi karhutla.
BMKG telah mengingatkan bahwa El Nino 2026 berpotensi berada pada kategori kuat hingga sangat kuat. Karena itu, kesiapsiagaan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat dan seluruh sektor yang bergantung pada ketersediaan air.
Pemantauan informasi cuaca, pengelolaan cadangan air, penyesuaian aktivitas pertanian, serta pencegahan kebakaran menjadi langkah penting untuk mengurangi dampak yang mungkin terjadi.
Dengan kondisi kemarau yang mencapai puncaknya pada Agustus di sebagian besar wilayah, kewaspadaan terhadap kekeringan di Indonesia akibat El Nino perlu terus ditingkatkan hingga kondisi iklim kembali lebih basah.




