catatanplus.com – Penembakan sekolah di Thailand terjadi di Debsirin Nonthaburi School, Provinsi Nonthaburi, pada Jumat, 7 Agustus 2026. Seorang siswa berusia 14 tahun diduga melakukan serangan menggunakan senjata api setelah sebelumnya menembak dua orang yang merupakan kakek dan neneknya.
Dalam serangan tersebut, sedikitnya 7 orang tewas dan 23 orang lainnya mengalami luka-luka. Lima korban tewas merupakan guru dan staf sekolah. Pelaku kemudian ditemukan dalam kondisi kritis setelah diduga menembak dirinya sendiri dan akhirnya meninggal dunia.
Kronologi Penembakan Sekolah di Thailand
Kasus penembakan sekolah di Thailand ini ternyata bermula sebelum pelaku tiba di sekolah.
Polisi menyebut remaja tersebut diduga terlebih dahulu menembak kakek dan neneknya di rumah sekitar pukul 05.00 waktu setempat. Senjata yang digunakan disebut merupakan milik sang kakek.
Setelah kejadian tersebut, pelaku kemudian berangkat menuju sekolah menggunakan kendaraan antar-jemput sekolah. Senjata api dan sejumlah amunisi dibawa bersamanya.
Debsirin Nonthaburi School sendiri berada sekitar 18 kilometer dari rumah pelaku dan memiliki ribuan siswa.
Setibanya di sekolah, pelaku mengikuti kegiatan belajar seperti biasa. Polisi memperkirakan penembakan dimulai sekitar pukul 09.50 waktu setempat, ketika pelaku sedang mengikuti pelajaran kedua.
Guru dan Staf Sekolah Menjadi Korban
Tembakan kemudian membuat suasana sekolah berubah menjadi kepanikan.
Sejumlah siswa berusaha keluar dari gedung untuk menyelamatkan diri. Sebagian lainnya memilih bersembunyi di bawah meja sambil menunggu situasi aman.
Polisi menyebut beberapa guru menjadi sasaran dalam serangan tersebut. Lima guru dan staf sekolah dilaporkan meninggal dunia akibat penembakan.
Selain korban meninggal, sebanyak 23 orang mengalami luka-luka. Beberapa korban bahkan dilaporkan berada dalam kondisi kritis dan harus mendapatkan perawatan medis.
Pelaku Penembakan Berusia 14 Tahun
Hal yang membuat penembakan sekolah di Thailand semakin menjadi perhatian adalah usia pelaku.
Pelaku diketahui masih berusia 14 tahun dan merupakan siswa di sekolah tersebut.
Menurut penyelidikan awal, pelaku dikenal sebagai remaja yang relatif pendiam dan memiliki kemampuan akademik yang cukup baik. Polisi juga menemukan adanya ketertarikan terhadap senjata api dan permainan bertema penembakan.
Namun, aparat masih mendalami motif sebenarnya di balik serangan tersebut.
Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul mengatakan pelaku diduga mengalami tekanan terkait pendidikan. Meski demikian, penyelidikan masih terus dilakukan untuk mengetahui faktor yang benar-benar mendorong tindakan tersebut.
Senjata Disebut Milik Kakek Pelaku
Polisi juga memberikan perhatian khusus terhadap asal senjata yang digunakan dalam penembakan sekolah di Thailand.
Senjata api tersebut disebut merupakan milik kakek pelaku dan memiliki izin. Pelaku diduga mengambil senjata tersebut sebelum melakukan serangkaian penembakan.
Dalam serangan tersebut, polisi memperkirakan setidaknya 26 peluru telah digunakan. Sebanyak 34 peluru lainnya juga ditemukan dalam penguasaan pelaku.
Menurut laporan Reuters, polisi masih menyelidiki bagaimana pelaku yang masih berusia 14 tahun bisa mendapatkan akses terhadap senjata api milik kakeknya.
Pelaku Akhirnya Meninggal Dunia
Setelah melakukan penembakan, pelaku kemudian masuk ke bagian lain dari gedung sekolah.
Petugas kepolisian akhirnya menemukan pelaku di lantai empat. Saat ditemukan, pelaku masih dalam keadaan hidup setelah diduga melakukan tindakan yang menyebabkan dirinya mengalami luka tembak.
Tim medis kemudian memberikan pertolongan dan membawa pelaku ke rumah sakit.
Namun, nyawanya tidak berhasil diselamatkan dan pelaku akhirnya meninggal dunia.
Dengan demikian, keseluruhan rangkaian kejadian menyebabkan korban meninggal dari kalangan kakek, nenek, guru dan staf sekolah, serta pelaku sendiri.
Penembakan Sekolah di Thailand Picu Perdebatan soal Senjata Api
Kasus penembakan sekolah di Thailand kembali membuka persoalan mengenai kepemilikan dan pengawasan senjata api di negara tersebut.
Perdana Menteri Thailand menyatakan pemerintah akan mendorong aturan baru mengenai senjata api. Salah satu gagasan yang disampaikan adalah pembatasan membawa senjata api di tempat umum dan hanya mengizinkan petugas pemerintah yang sedang menjalankan tugas untuk membawanya.
Persoalan ini menjadi semakin penting karena Thailand memiliki jumlah senjata api sipil yang tinggi dibandingkan negara lain di kawasan Asia Tenggara.
Pemerintah sebelumnya juga telah mengambil sejumlah langkah pengendalian senjata setelah beberapa kasus penembakan besar terjadi di Thailand.
Sekolah Jadi Sorotan Setelah Tragedi
Tragedi penembakan sekolah di Thailand juga membuat keamanan lingkungan pendidikan kembali menjadi perhatian.
Sekolah merupakan tempat berkumpulnya ribuan siswa dan tenaga pendidik setiap hari. Karena itu, sistem keamanan menjadi salah satu hal yang perlu dievaluasi setelah kejadian tersebut.
Selain keamanan sekolah, kasus ini juga memunculkan pertanyaan mengenai akses anak terhadap senjata api, pengawasan terhadap kepemilikan senjata, serta tekanan yang dialami remaja.
Namun, polisi masih harus menyelesaikan penyelidikan sebelum dapat memastikan seluruh penyebab dan motif di balik serangan tersebut.
Penembakan Sekolah di Thailand Jadi Tragedi Besar
Penembakan sekolah di Thailand di Debsirin Nonthaburi School menjadi tragedi besar yang menewaskan sedikitnya tujuh orang dan melukai 23 lainnya.
Pelaku yang masih berusia 14 tahun diduga sebelumnya menembak kakek dan neneknya menggunakan senjata milik sang kakek sebelum membawa senjata tersebut ke sekolah.
Kasus ini tidak hanya menjadi perhatian karena jumlah korbannya, tetapi juga karena pelaku masih berada di usia remaja. Penyelidikan masih berlanjut untuk mengungkap motif serangan dan bagaimana pelaku bisa mendapatkan akses terhadap senjata api.
Peristiwa tersebut juga diperkirakan akan kembali mendorong pembahasan mengenai keamanan sekolah, pengawasan senjata api, dan perlindungan anak di Thailand.




